Minggu, 22 Januari 2017

Cerita ku

    Sejak masih berada dalam kandungan, kita sudah menjadi tanggung jawab dari orangtua kita masing-masing. Aku anak ke empat dari 5 bersaudara sekandung, sewaktu aku yang masih dalam kandungan Ayah pasti selalu berusaha membawa buah tangan ketika pulang dari bekerja, walaupun mungkin hanya berisi beberapa makanan ringan untuk kakak-kakak ku juga buah segar atau sekotak susu yang hendak disajikan untuk ibu supaya terpenuhi kebutuhan giziku di dalam kandungan ibu. Setiap pagi mungkin ayah dan ibu menyempatkan diri untuk sekedar jalan santai di sekitar rumah, tentunya juga setiap bulan rutin cek ke dokter hanya untuk memastikan bahwa aku sehat di dalam kandungan, begitu pun dengan ibu yang tentunya semakin kuat.
   Tiba saatnya aku lahir ke dunia, ayah dan ibu juga kakak-kakak ku mungkin menyambutku dengan tangis dan tawa. Aku tahu pasti saat itu aku belum bisa melihat atau mendengarnya langsung, tapi aku yakin mereka seperti itu melainkan karena bahagia, sosok yang mereka rawat selama sembilan bulan sepuluh hari itu kini telah nampak di dunia,
Setalah aku lahir Ayah dan ibu pun tetap tidak lupa denggan kewajiban mereka sebagai orangtua. Bekerja dari pagi hingga sore hari semata-mata hanya demi aku dan Kami semua anak-anak mu. Bahkan, setelah itu kalian tetap bisa membagi waktu sesekali bermain bersamaku, tertawa lepas melepas penat, menciptakan suasana hangat.
   Waktu demi waktu berlalu aku semakin tumbuh besar. Ketika kalian menyadari aku sudah harus mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi, kalian tanpa ragu memutuskan untuk memasukkanku ke sekolah pertama kalinya. Dengan bangga setiap pagi ibu mengusap kepalaku sambil mengucapkan sebait doa agar aku bisa belajar dengan baik seperti saudara-saudara ku yang lain.
   Dan kakak-kakak ku pun  dengan gembira mempersiapkan semua peralatan sekolahku, juga tentunya mereka senantiasa tetap memberiku semangat untuk bersiap berangkat ke sekolah. Mereka pastikan aku harus benar-benar bisa jadi anak yang pintar di sekolah..
   Pintu remaja terbuka, aku memasuki waktu di mana kebanyakan remaja juga melakukan hal yang sama. Aku coba segala hal asalkan aku senang aku tau kalian pasti mengijinkannya selama masih berada dalam batas kewajaran dan pengawasanmu. Keras memang, karena mungkin sesekali dibumbui dengan bantahan-bantahan kecil yang sering aku lontarkan kepada kalian ayah, ibu juga kakak-kakak ku yang selalu membimbing aku.
   Yakinlah Ayah, Ibu, juga saudara-saudaraku, aku mengetahui batasanku. Aku harap kalian tetap tenang.
   Terutama Ayah dan ibu, aku selalu ingat semua pesan-pesan kalian untuk ku, walau terkadang aku seperti tidak menghiraukan semua nasehat kalian tapi jangan pikirkan aku tidak mengingat semua nasehat-nasehat itu.
   Ayah, ibu aku tahu ketika setiap aku ingin melangkah jauh dari jangkauan, kalian selalu memikirkan keadaan aku Kemudian kalian seolah dihantui khawatir berlebih. Sambil tetap menebar senyum jika berada di depanku dan kalianpun tak pernah lupa  untuk merangkai doa di setiap lima waktumu. Meminta Tuhan untuk ikut menjagaku karena kalian tahu aku tak akan terjaga sendiri tanpa campur tangan Nya yang maha kuasa.
   Beranjak dewasa, aku pun bersyukur masih bisa terus mengingat setiap nasihat kalian yang selalu kalian ucapkan untukku. Itu semua bisa aku jadikan sebagai bekal untukku berjalan menapaki setiap lembar kehidupan yang Tuhan takdirkan untukku.
   Tiba saatnya di mana aku harus perang menggunakan segala pengalaman dan pengetahuan sebagai senjatanya yang telah aku dapatkan sebelumnya ketika aku menimba ilmu: bekerja. Ya, aku perang untuk bekerja, mencari pekerjaan demi masa depanku yang lebih baik. Tidak hanya untukku, tapi juga untuk kalian. Aku ingin kalian bisa bangga denganku, melihatku memiliki karir yang mantap. Bukan jabatan yang aku kejar, tapi paling tidak aku bisa lebih mandiri dari sebelumnya, tidak lagi melulu merepotkanmu dan selalu merengek pada kalian meminta sesuatu. Tapi tahukah kalian Ayah, Ibu, harapanku dan harapanmu tidak selalu bisa berjalan mulus.
   Hambatan tak pernah henti menghampiriku. Mereka seperti datang sepaket dengan semangat membara yang aku miliki dan setumpuk doa yang selalu kalian ucapkan disetiap waktu luang kalian. Keterbatasan yang aku miliki bukan penghalang bagiku untuk menemukan yang terbaik. Halusnya penolakan, nyaringnya cemohan orang-orang sudah banyak dan sering aku dengarkan.
Lelah sudah pasti aku rasakan, marah seringkali menghampiri diri. Menyerah? Sudah pernah aku lakukan. Seolah aku sudah tak mahu dan tak mampu lagi mengerahkan tenaga dan pikiranku untuk terus berusaha. Ku mohon sabarlah sedikit ayah, ibu.
Bukankah orang bijak mengatakan semua akan indah pada waktunya? Jangan tanyakan kapan, mengapa atau apapun padaku. Karena terkadang aku pun juga merasa bahwa dunia kejam bahkan menolakku. Aku yakin, itu semua bukan karena aku yang kata orang terlalu idealis, terlalu tinggi atau keras kepala. Aku masih tetap dengan tujuan dan keinginanku, yang nantinya akan aku persembahkan untuk kalian. Aku masih menunggu.
Rejeki untukku sudah digariskan oleh Tuhan. Mungkin hanya belum bertemu saja. Aku masih bisa memainkan peranku sesuai dengan skenario yang sudah dituliskan oleh Tuhan untukku. Mungkin sekarang waktunya aku masih harus memerankan tokoh yang selalu mencari dan dibuang, tapi di dalam skenarionya aku dipertemukan dengan peran yang tak kalah luar biasa. Itu tak lain adalah kalian, peran sebagai seorang ayah dan ibu yang selalu mendukungku. Sang waktu belum berkenan mempertemukan dengan apa yang aku cari.
   Tolong bantu aku untuk memantaskan diri menjadi yang tepat. Mungkin waktu dan Tuhan sudah sepakat untuk melihat perjuanganku dulu sebelum bertemu dengan yang indah. Jika sudah saatnya nanti, entah kapan, aku yakin pasti bisa membuat kalian bangga. Jadi, ku mohon sabarlah sebentar lagi Ayah, Ibu. Semua ini adalah karya indah Tuhan dan Sang Waktu untukku. Ikuti, akui, dan tolong restui di setiap langkah perjalananku..!!
Sekian...
   My Story M42LY ☺

Selamat Pagi Malamku

   Selamat pagi, malamku. Sebelum aku tidur, izinkanlah aku memikirkan tentang senyummu.
Oh indah sekali, bukan? Ah, manalah ekau tau jika indahnya dirimu layak disandingkan dengan kekagumanku akan manisnya wajahmu. Selalu, setiap kali ku katakan itu padamu, engkau hanyalah tersipu. Malu, dan menganggap semua itu hanya ejekanku, lalu pipi bulatmu itu terangkat dan menghadirkan rona-rona merah yang paling kusuka.
kasihku, andaikan engkau tau, bahwa ketika ku tulis sebaris alinea ini hanyalah ketika engkau tengah melintas di kepalaku. Bayanganku memang sangatlah liar, aku selalu memikirkan bagai mana seandainya kebahagiaan di antara engkau dan aku menjadi satu. Meski sudah berkali-kali kau mengatakan aku gila dengan selingan tawa ringan dari bibir manismu, tetap saja tak pernah muncul tanda jera untukku, untuk semakin mencintaimu.
kasihku, memang aku sudah gila.
Tawamu, membuatku gila. Tangismu, membuatku gila. Amarahmu, leluconmu, membuatku semakin gila. Apalagi, senyummu. Semakin gila lagi ketika ku tahu tentang dirimu.

Ah, sungguhlah aku manusia yang paling bodoh.
Kegilaanku pada dirimu membuat diriku semakin jatuh dalam lara dan semakin—semakin lagi.

Selamat pagi, malamku.

Ya, malamku. Tempatku menjamu mimpi. Mimpi-mimpi yang hadir hanya ketika aku memejamkan mataku. Menikmatinya, menikmatinya, dan menikmatinya. Namun semakin aku menikmatinya, semakin gelisah pula rasa hatiku.
kasihku, betapa indahnya engkau hadir dalam mimpiku malam itu. Namun, betapa kejamnya pula engkau memilih untuk sirna ketika aku kembali hidup dalam hidupku.

Sekian... My Story M42LY

Kegagalan Menjadi Guru terbaikku


   Mencari satu langkah yang ke hadapan dan ada ketika waktunya aku menoleh ke belakang untuk muhasabah diriku yang terpencil ini...
   Semua orang pasti akan menyambut datangnya sukses dengan tangan terbuka. Sebaliknya, banyak orang akan berusaha agar tidak mengalami kegagalan. Kenyataannya, sukses dan gagal merupakan "satu paket" yang tidak bisa dipisahkan. Lalu, mengapa kita harus takut pada kegagalan? Yang perlu kita ketahui adalah apa yang harus kita lakukan ketika kegagalan datang. Simak bahasan ku!! 
  Jika kita sadar bahwa kegagalan itu merupakan bagian dari sukses dan kegagalan merupakan guru yang terbaik, maka kita tidak akan takut ketika kegagalan datang.
Hidup kita seolah berada di sebuah Perahu yang berada di tengah samudra luas. Perlu perjuangan untuk membuat perahu tersebut melaju menuju pulau impian yang kita tuju. Jika tidak, Perahu hanya akan terombang-ambing entah kemana. Kita perlu terus menjadikan Perahu bergerak dan mengarahkannya ke arah pulau impian kita. Namun, kadang badai datang, membuat Perahu kita oleng bahkan hampir tenggelam.
   Namun perahu kehidupan memiliki sebuah keajaiban. perahu kehidupan tidak akan pernah tenggelam selama kita memiliki harapan. Oleng mungkin tetapi tenggelam tidak jika kita masih memiliki harapan bahwa kita akan sampai ke tujuan yang kita impikan. Jika badai begitu lama menggoncang perahu kita, jangan pernah menyerah, karena menyerah adalah satu cara pasti perahu kita tenggelam. Harapan, membuat perahu kita tidak akan pernah hancur dihantam gelombang dan tidak akan membuat perahu kita karam.
Lalu, dari mana datangnya harapan? Harapan ada pada diri kita, sebab tidak ada badai yang melebihi kekuatan diri kita. Sebesar-besarnya badai masih dibawah kemampuan kita semua. Tuhan telah memberikan kekuatan yang sangat dahsyat pada diri kita atau mendatangkan badai yang besarnya masih ada dibawah kemampuan kita. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita.
   Jagalah harapan bahwa selalu ada jalan keluar. Yakinlah bahwa kita bisa bertahan. Pasti ada sesuatu hikmah besar dibalik kesulitan yang kita hadapi. Semakin besar kesulitan, mungkin semakin besar dan bernilai hikmah yang akan kita dapatkan nanti. Jagalah harapan, karena badai pasti berlalu.
yakinlah Pada Badai yang datang menghampiri kita adalah sebuah media pelatihan diri untuk mencapai apa yang kita inginkan. Orang tidak akan pintar jika tidak di latih, Dan badai yang menghampiri hidup kita adalah media pelajaran yang tepat, yang dikirim tuhan agar kita siap untuk menajadi sukses, Tidak ada orang pintar tanpa belajar, Tidak Ada orang yang bisa menyanyi tanpa latihan, Burung Elang yang perkasa tidak akan bisa terbang tinggi tanpa terjatuh.
   Maka Persiapkan Perahu kita untuk dapat menembus Badai Kehidupan yang akan menerjang kita dari arah yang tidak bisa di prediksi. Karena biasanya setelah badai akan ada hari yang indah. Walau terkadang jawaban dari tuhan tidak seperti yang kita harapkan, tetapi keindahan akan kita dapatkan jika kita menyadarinya.
Sekian.. My Story M42LY

Langkah Awal

Pada awalnya aku tidak pernah membayangkan akan membina laman blog ini untuk aku kisahkan satu persatu perjalanan aku di sini.
Namun, kerana sedikit keresahan, aku perlu bina satu jembatan baru untuk aku melangkah dengan sejuta harapan baru agar apa yang aku lalui selama ini ikhlas dan meninggalkan kesan positif dalam perjalanan aku ini.
Bukan kerana mengejar sejuta bintang di langit untuk aku dakap semua mimpi2 namun cukup untuk aku ungkai kecemasan fikiran yang seringkali menganggu senyumanku.
Untuk apa, andai itu soalan yang berputar dan sering meninggalkan tanda tanya...biarlah hati aku yang menjawabnya..kerana aku perlu bahagia seperti mereka di luar sana.
Aku sudah puas menanti,aku sudah jemu berlinang duka tetapi kini aku ingin berdiri atas kepayahan dulu bersama setetes kegembiraan, bukan pautan duka yang lampau.
Payah atau mudah, ada dalam diriku. Apa yang perlu hanya panduan, ya panduan...
Aku perlu singkap cahaya itu untuk sinari langkah yang makin lumpuh, makin menyimpang..
Demi Dia, Allah Yang Paling ku cintai....

Sekian.. My Story M42LY 😊